Sebuah Refleksi Berpikir
Hai hai...
Apa kabarnya? Aku harap kalian selalu baik ya. Jaga selalu senyum, semangat, dan imunnya. Yei!!!
Akhir-akhir ini aku dan semangatku agak upside down. Kalo pas semangat yang banget, kalo pas nggak ya menyedihkan gitu. Ya inilah kehidupan. Ada suka dan duka didalamnya.
Umur 20-an adalah masa transisi emosional tersulit yang saat ini aku lalui. Rasanya terlalu menggebu-gebu dan terkadang susah dikendalikan. Berpikir banyak hal, apalagi kalo bukan tentang masa depan. Mau jadi apa aku kedepannya, melakukan apa, dan bagaimana caranya. Semua hal itu terus berputar-putar dikepalaku. Disisi lain tugas dan masa tingkat akhir perkuliahan yang juga membebani pikiran. Sebenarnya aku tidak mengganggap itu semua sebagai beban, hanya saja saat aku dihajar oleh overthingking, hal itu menjadi seperti hantu yang sangat menyeramkan. Aku tak tau pasti bagaimana masa depanku. Masa kuliah dan tugas-tugasnya tidak menyeramkan, yang kutakutkan adalah masa setelah lulus. Bagiku yang lumayan agak anti-sosial ini kehidupan pasca kelulusan sangat tidak bisa kuprediksi. Aku hanya memiliki relasi-relasi kecil yang tidak terlalu mengganggapku hidup, atau aku ada disana hanya sekadar pelengkap saja. Yah begitulah.
Bagaimanapun juga semua yang kurasakan ini akan segera berlalu. Aku akan bisa menerima dan menjalaninya. Berkaca pada orang-orang disekitarku yang sudah mengalami dan merasakannya. Bapak, ibuk, Pak Poh, Bu Poh, Bu Lik, Pak Lik, dan mas juga mbak-ku, mereka semua dilingkungan keluargaku bisa survive dan bertahan sampai sekarang. Tentu saja aku pasti bisa. Bismillah.
Yang sering kulakukan sekarang selain merenung, hanyalah berencana dan berdoa. Berharap semua hal dihidupku berjalan dengan baik. Selebihnya itu aku menyerahkan semuanya pada Allah SWT. Aku tahu mungkin usahaku tidak seberapa, ada orang lain yang lebih lagi usahanya untuk memperoleh apa yang mereka inginkan. Aku sadar satu hal. Itu bukan merupakan suatu perbandingan. Karna kita memiliki start dan finish masing-masing yang berbeda. Tujuan dan cita-cita mereka juga berbeda denganku. Jadi aku tak perlu mempersalahkan kalo aku sedang berjalan lambat. Setidaknya aku masih berjalan sampai saat ini.
Saat aku diremehkan oleh orang lain, tentu saja aku sakit hati. Bagaimanapun aku juga manusia dan kuakui aku memang orang yang sensitif. Terkadang omongan orang lain juga membuatku menangis. Menyedihkan bahwa yang mereka katakan padaku adalah fakta adanya. Saat aku menangis aku tidak mengasihani diriku sendiri, melainkan orang-orang disekitarku. Kasihan mereka sampai merasakan betapa payahnya aku ini. Ya hal ini sebaiknya tidak kalian tiru karna aku sedang rendah diri saat overthinking menyerangku.
Aku percaya tidak ada manusia yang bodoh di dunia ini. Tiap orang pasti diberkahi keunggulan dimasing-masing bidangnya. Hanya saja kita perlu mengetahui dimana letaknya. Kita perlu mengenal diri kita lebih dalam. Tujuannya agar segala kemampuan dan kelebihan yang kita miliki dapat dimaksimalkan untuk diri kita sendiri pun kalau bisa bermanfaat untuk orang lain malah semakin bagus. Simpel. Ya aku tau sesuatu akan mudah dikatakan/dituliskan daripada dilakukan, namun setidaknya pertama-tama kita kudu sadar dulu tentang hal ini. Langkah selanjutnya adalah mencari siapa kita.
Semua overthingking yang kurasakan membawaku menuju suatu pemikiran yang lebih logis, sederhana, dan tidak mengada-ada. Sebenarnya yang menakutkan bukan hari esok, omongan orang lain, atau hantu gentayangan. Setelah kutelusuri yang paling horror adalah cara kita berpikir. Dimana saat kita berpikir tidak bisa, sebelum mencoba kemampuan yang kita punya. Dan hal ini sering terjadi kepada siapapun saat mereka down dan dalam kondisi overthinking.
Bagiku, tak apa kalian menjadi pemikir segala hal, tapi cobalah melihat realitas dan coba lakukan hal yang bisa kalian lakukan. Berpikirlah yang baik, coba tuangkan dan jadikan nyata kebaikan tersebut.
Terima kasih sudah berkunjung kesini⚘

Komentar
Posting Komentar